Probiotik

Posted: November 2, 2011 in Uncategorized

Probiotik adalah istilah yang digunakan pada mikroorganisme hidup yang dapat memberikan efek baik atau kesehatan pada organisme lain/inangnya beberapa contoh pada makanan suplemen diet yang mengandung bakteri berguna dengan asam laktat bakteri (lactic acid bacteria – LAB) sebagai mikroba yang paling umum dipakai. LAB telah dipakai dalam industri makanan bertahun-tahun karena mereka mampu untuk mengubah gula (termasuk laktosa) dan karbohidrat lain menjadi asam laktat. Ini tidak hanya menyediakan rasa asam yang unik dari dairy food fermentasi seperti susu fermentasi, tapi juga berperan sebagai penyedia, dengan cara mengurangi pH dan membuat kesempatan organisme merugikan untuk tumbuh lebih sedikit.

Probiotik seringkali direkomendasikan oleh dokter, dan, lebih sering lagi, oleh ahli nutrisi, setelah pengkonsumsian antibiotik, atau sebagai bagian dari pengobatan candidiasis. Banyak probiotik disediakan dalam sumber alaminya seperti Lactobacillus pada yoghurt dan sauerkraut. Beberapa mengklaim probiotik mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Tipe probiotik

Bentuk yang paling umum dari probiotik adalah produk peternakan dan makanan probiotik. Bagaimanapun juga, tablet dan kapsul berisikan bakteri dalam kondisi dibekukan juga dapat ditemukan.

Beberapa probiotik umum meliputi berbagai spesies dari genera Bifidobacterium dan Lactobacillus seperti:

Ada pula satu spesies ragi yang digunakan sebagai probiotik:

Beberapa bakteri yang umum dipakai dalam produk tapi tanpa efek probiotik (bakteri yoghurt):

Beberapa bakteri lain disebutkan dalam produk probiotik:

Beberapa produk fermentasi mengandung asam laktat bakteri yang mirip walaupun sering belum dibuktikan memiliki efek probiotik atau kesehatan termasuk:

 

ORGAN TUMBUHAN

Posted: October 18, 2011 in Uncategorized

ORGAN TUMBUHAN

Organ tumbuhan biji yang penting ada 3, yakni: akar, batang, daun.
Sedang bagian lain dari ketiga organ tersebut adalah modifikasinya, contoh: umbi modifikasi akar, bunga modifikasi dari ranting dan daun.

AKAR

Asal akar adalah dari akar lembaga (radix), pada Dikotil, akar lembaga terus tumbuh sehingga membentuk akar tunggang, pada Monokotil, akar lembaga mati, kemudian pada pangkal batang akan tumbuh akar-akar yang memiliki ukuran hampir sama sehingga membentuk akar serabut.

Akar monokotil dan dikotil ujungnya dilindungi oleh tudung akar atau kaliptra, yang fungsinya melindungi ujung akar sewaktu menembus tanah, sel-sel kaliptra ada yang mengandung butir-butir amylum, dinamakan kolumela.

1. Fungsi Akar
a. Untuk menambatkan tubuh tumbuhan pada tanah
b. Dapat berfungsi untuk menyimpan cadangan makanan
c. Menyerap air dam garam-garam mineral terlarut

2. Anatomi Akar


Pada akar muda bila dilakukan potongan melintang akan terlihat bagian-bagian dari luar ke dalam.
a. Epidermis
b. Korteks
c. Endodermis
d. Silinder Pusat/Stele

a. Epidermis
Susunan sel-selnya rapat dan setebal satu lapis sel, dinding selnya mudah dilewati air. Bulu akar merupakan modifikasi dari sel epidermis akar, bertugas menyerap air dan garam-garam mineral terlarut, bulu akar memperluas permukaan akar.

b. Korteks
Letaknya langsung di bawah epidermis, sel-selnya tidak tersusun rapat sehingga banyak memiliki ruang antar sel. Sebagian besar dibangun oleh jaringan parenkim.

c. Endodermis
Merupakan lapisan pemisah antara korteks dengan silinder pusat. Sel-sel endodermis dapat mengalami penebalan zat gabus pada dindingnya dan membentuk seperti titik-titik, dinamakan titik Caspary. Pada pertumbuhan selanjutnya penebalan zat gabus sampai pada dinding sel yang menghadap silinder pusat, bila diamati di bawah mikroskop akan tampak seperti hutuf U, disebut sel U, sehingga air tak dapat menuju ke silinder pusat. Tetapi tidak semua sel-sel endodermis mengalami penebalan, sehingga memungkinkan air dapat masuk ke silinder pusat. Sel-sel tersebut dinamakan sel penerus/sel peresap.

d.Silinder Pusat/Stele
Silinder pusat/stele merupakan bagian terdalam dari akar.
Terdiri dari berbagai macam jaringan :
– Persikel/Perikambium
Merupakan lapisan terluar dari stele. Akar cabang terbentuk dari pertumbuhan persikel ke arah luar.
– Berkas Pembuluh Angkut/Vasis
Terdiri atas xilem dan floem yang tersusun bergantian menurut arah jari jari. Pada dikotil di antara xilem dan floem terdapat jaringan kambium.
– Empulur
Letaknya paling dalam atau di antara berkas pembuluh angkut terdiri dari jaringan parenkim.

BATANG
Terdapat perbedaan antara batang dikotil dan monokotil dalam susunan anatominya.

Jaringan Batang

1. Batang Dikotil
Pada batang dikotil terdapat lapisan-lapisan dari luar ke dalam :
a. Epidermis
Terdiri atas selaput sel yang tersusun rapat, tidak mempunyai ruang antar sel. Fungsi epidermis untuk melindungi jaringan di bawahnya. Pada batang yang mengalami pertumbuhan sekunder, lapisan epidermis digantikan oleh lapisan gabus yang dibentuk dari kambium gabus.
b. Korteks
Korteks batang disebut juga kulit pertama, terdiri dari beberapa lapis sel, yang dekat dengan lapisan epidermis tersusun atas jaringan kolenkim, makin ke dalam tersusun atas jaringan parenkim.
c. Endodermis
Endodermis batang disebut juga kulit dalam, tersusun atas selapis sel, merupakan lapisan pemisah antara korteks dengan stele. Endodermis tumbuhan Anguiospermae mengandung zat tepung, tetapi tidak terdapat pada endodermis tumbuhan Gymnospermae.
d. Stele/ Silinder Pusat
Merupakan lapisan terdalam dari batang. Lapis terluar dari stele disebut perisikel atau perikambium. lkatan pembuluh pada stele disebut tipe kolateral yang artinya xilem dan floem. Letak saling bersisian, xilem di sebelah dalam dan floem sebelah luar.
Antara xilem dan floem terdapat kambium intravasikuler, pada perkembangan selanjutnya jaringan parenkim yang terdapat di antara berkas pembuluh angkut juga berubah menjadi kambium, yang disebut kambium intervasikuler. Keduanya dapat mengadakan pertumbuhan sekunder yang mengakibatkan bertambah besarnya diameter batang.
Pada tumbuhan Dikotil, berkayu keras dan hidupnya menahun, pertumbuhan menebal sekunder tidak berlangsung terus-menerus, tetapi hanya pada saat air dan zat hara tersedia cukup, sedang pada musim kering tidak terjadi pertumbuhan sehingga pertumbuhan menebalnya pada batang tampak berlapis-lapis, setiap lapis menunjukkan aktivitas pertumbuhan selama satu tahun, lapis-lapis lingkaran tersebut dinamakan Lingkaran Tahun.

2. Batang Monokotil
Pada batang Monokotil, epidermis terdiri dari satu lapis sel, batas antara korteks dan stele umumnya tidak jelas. Pada stele monokotil terdapat ikatan pembuluh yang menyebar dan bertipe kolateral tertutup yang
artinya di antara xilem dan floem tidak ditemukan kambium. Tidak adanya kambium pada Monokotil menyebabkan batang Monokotil tidak dapat tumbuh membesar, dengan perkataan lain tidak terjadi pertumbuhan menebal sekunder. Meskipun demikian, ada Monokotil yang dapat mengadakan pertumbuhan menebal sekunder, misalnya pada pohon Hanjuang (Cordyline sp) dan pohon Nenas seberang (Agave sp).

DAUN

anatomi-daun

Daun merupakan modifikasi dari batang, merupakan bagian tubuh tumbuhan yang paling banyak mengandung klorofil sehingga kegiatan fotosintesis paling banyak berlangsung di daun.
Anatomi daun dapat dibagi menjadi 3 bagian :
1. Epidermis
Epidermis merupakan lapisan terluar daun, ada epidermis atas dan epidermis bawah, untuk mencegah penguapan yang terlalu besar, lapisan epidermis dilapisi oleh lapisan kutikula. Pada epidermis terdapatstoma/mulut daun, stoma berguna untuk tempat berlangsungnya pertukaran gas dari dan ke luar tubuh tumbuhan.
2. Parenkim/Mesofil
Parenkim daun terdiri dari 2 lapisan sel, yakni palisade (jaringan pagar) dan spons (jaringan bunga karang), keduanya mengandung kloroplast. Jaringan pagar sel-selnya rapat sedang jaringan bunga karang sel-selnya agak renggang, sehingga masih terdapat ruang-ruang antar sel. Kegiatan fotosintesis lebih aktif pada jaringan pagar karena kloroplastnya lebih banyak daripada jaringan bunga karang.
3. Jaringan Pembuluh
Jaringan pembuluh daun merupakan lanjutan dari jaringan batang, terdapat di dalam tulang daun dan urat-urat daun.

Bunga (flos)

1. Bunga adalah batang dan daun yang termodifikasi. Modifikasi ini disebabkan oleh dihasilkannya sejumlah enzim yang dirangsang oleh sejumlah fitohormon tertentu. Pembentukan bunga dengan ketat dikendalikan secara genetik dan pada banyak jenis diinduksi oleh perubahan lingkungan tertentu, seperti suhu rendah, lama pencahayaan, dan ketersediaan air
2. Bunga merupakan stuktur reproduksi seksual pada tumbuhan berbunga (Divisio Magnoliophyta/Angiospermae, “tumbuhan biji tertutup”)
3. Sebagai tempat terbentuknya buah dan biji

Pada bunga terdapat organ reproduksi yaitu putik dan benang sari. Bunga dikatakan sempurna bila dalam satu bunga terdapat alat kelamin jantan (benang sari) dan alat kelamin betina (putik) yang biasanya kita sebut dengan bunga banci atau hermafrodit. Selain itu bunga diktakan lengkap bila dalam satu bunga terdapat 4 bagian utama bunga yaitu:
1. Kelopak bunga

2. Mahkota bunga yang biasanya berwarna-warni yang fungsinya untuk mengikat serangga

3. Alat kelamin jantan berupa benang sari

4. Alat kelamin betina berupa putik

Macam-macam bunga
1.Bunga Tunggal. Contoh : bunga mawar, bunga kembang sepatu
2.Bunga Majemuk

Bunga majemuk adalah sekelompok kuntum bunga yang terangkai pada satu ibu tangkai bunga atau pada suatu susunan tangkai-tangkai bunga yang lebih rumit. Rangkaian bunga semacam ini sangat bervariasi, baik pada pola-pola dan kerapatan tangkai bunganya, kelengkapan bagian-bagian pendukungnya, duduk bunga pada tangkai (filotaksi, phyllotaxy) dan lain-lain.

Susunan bunga majemuk juga biasa disebut dengan istilah perbungaan atau infloresens (inflorescence). Dalam kehidupan sehari-hari, sebagian perbungaan disebut sebagai “bunga” saja (atau variasinya), terlebih bila susunannya rapat atau kuntum-kuntum bunganya kecil-kecil, seperti misalnya bunga kenikir dan bunga kelapa (disebut mayang)

Dalam penyerbukan biasanya bunga dibantu oleh beberapa perantara yaitu :

1.Perantara angin yang biasa disebut anemogami , cirinya bila serbuk benang sari kecil,ringan dan kering. Contohnya pinus, damar, rumput-rumputan.
2.Perantara air disebut hidrogami. Contohnya pada tanaman air.
3.Perantara hewan yang disebut zoogami. Contohnya bila perantaranya serangga disebut entomogami, bila perantaranya burung disebut ornitogami, bila perantaranya siput disebut malakogami.
4.Perantaranya manusia disebut antropogami. Contohnya penyerbukan pada vanili, salak

Buah

Buah adalah organ pada tumbuhan berbunga yang merupakan perkembangan lanjutan dari bakal buah (ovarium). Buah biasanya membungkus dan melindungi biji. Aneka rupa dan bentuk buah tidak terlepas kaitannya dengan fungsi utama buah, yakni sebagai pemencar biji tumbuhan

macam-macam buah

1. Buah tunggal, yakni buah yang terbentuk dari satu bunga dengan satu bakal buah, yang berisi satu biji atau lebih.
2. Buah ganda, yakni jika buah terbentuk dari satu bunga yang memiliki banyak bakal buah. Masing-masing bakal buah tumbuh menjadi buah tersendiri, lepas-lepas, namun akhirnya menjadi kumpulan buah yang nampak seperti satu buah. Contohnya adalah sirsak (Annona).
3. Buah majemuk, yakni jika buah terbentuk dari bunga majemuk. Dengan demikian buah ini berasal dari banyak bunga (dan banyak bakal buah), yang pada akhirnya seakan-akan menjadi satu buah saja. Contohnya adalah nanas (Ananas), bunga matahari (Helianthus).

Alhamdulillah …

Akhirnya materi organ tumbuhan selesai juga …


Program Perbaikan Pembelajaran

 

  1. Pengetahuan baru apa yang telah diperoleh setelah mengikuti pelatihan guru pendamping (mentor) ICT ini?

_________________________________________________________________________________________

_________________________________________________________________________________________

_________________________________________________________________________________________

 

  1. Materi apa yang belum dipahami/dikuasai dalam pelatihan guru pendamping (mentor) ICT ini?

_________________________________________________________________________________

_________________________________________________________________________________

_________________________________________________________________________________

 

  1. Apa yang akan dilakukan untuk memahami/menguasai materi tersebut?

_________________________________________________________________________________

_________________________________________________________________________________

_________________________________________________________________________________

 

  1. Apa yang akan dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan baru yang telah diperoleh selama pelatihan guru Pendamping (mentor) ICT ini?

_________________________________________________________________________________

_________________________________________________________________________________

_________________________________________________________________________________

 

  1. Permasalahan dan rencana perbaikan dalam jangka panjang yang disiapkan

_________________________________________________________________________________

_________________________________________________________________________________

_________________________________________________________________________________

 

PENGUMUMAN PENTING !!!

Posted: October 4, 2011 in Uncategorized

Besok tanggal 5 – 6 Oktober 2011, saya ada acara workshop di Tretes, maka untuk pengajaran Biologi kelas X dan XI IPA akan saya pantau melalui web. Jadi saya percaya kalian semua adalah anak didik saya yang terbaik….

TUGAS UNTUK KELAS X

kalian kemarin sudah saya beri tugas untuk membuat kliping tentang jenis-jenis penyakit yang disebabkan oleh virus. Nah tugasnya sekarang adalah “kalian mencari informasi tentang pencegahan dan pengobatan dari penyakit yang kalian temukan/masukkan dalam kliping”, tulis di kertas dan dikumpulkan bersama kliping kalian ! Bgi yang sudah mengumpulkan, kliping dapat diambil di meja saya, tapi dikembalikan lagi.

untuk yang belum ulangan harian dan ulangan kartu, dapat dilaksanakan setelah saya datang.

TUGAS UNTUK KELAS XI IPA

kalian kemarin sudah selesai tentang materi Jaringan Tumbuhan, tugasnya sekarang adalah “kalian mencari/mendeskripsikan jaringan-jaringan apa saja yang menyusun organ-organ tumbuhan (akar, batang, daun, bunga, dan buah)”, tulis di kertas dan dikumpulkan !

SELAMAT BELAJAR DAN MENGERJAKAN …

1. Suberin adalah lapisan pelindung bagian tumbuhan di bawah tanah. Suberin juga melindungi sel gabus yang terbentuk pada kulit pohon oleh kegiatan penghancuran dari pertumbuhan sekunder, dan ini terbentuk dari banyak sel sebagai jaringan luka setelah pelukaan (misalnya setelah gugur daun dan pada luka umbi kentang yang akan ditanam). Suberin juga terdapat pada dinding sel akar yang tak terluka sebagai pita Caspari di endodermis dan eksodermis serta di seludang berkas pembuluh pada rerumputan. Tumbuhan membentuk suberin bila perubahan secara fisiologis atau perubahan perkembangan, atau faktor cekaman, menyebabkan tumbuhan perlu menghambat difusi. Tapi pada tingkat molekul, kejadian yang menyebabkan terbentuknya suberin belum diketahui. Bagian lipid yang berlilin (sampai dengan setengah total suberin) adalah campuran kompleks asam lemak rantai panjang, asam lemak terhidroksi, asam dikarboksilat, dan alkohol rantai panjang. Sebagian besar kelompok ini mempunyai lebih dari 16 atom karbon. Suberin selebihnya mengandung senyawa fenol dengan asam ferulat sebagai komponen utamanya. Seperti pada kutin, fenol ini diperkirakan mengikatkan fraksi lipid dari suberin ke dinding sel. Jadi suberin serupa dengan kutin karena keduanya memiliki fraksi poliester lipid utama, tapi suberin memiliki lebih banyak fraksi fenol dalam hal jenis asam lemaknya

 2.     Kutin adalah polimer heterogen yang terdiri dari terutama berbagai kombinasi anggota dua kelompok asam lemak, satu kelompok mempunyai 16 karbon dan satunya 18 karbon. Sebagian besar asam lemak tersebut mempunyai dua atau lebih gugus hidroksil, serupa dengan asam risinoleat. Sifat polimer kutin timbul dari ikatan ester yang menggabungkan gugus hidroksil dan gugus karboksil dalam berbagai asam lemak. Sedikit senyawa fenol juga terdapat pada kutin, dan diperkirakan tertempel oleh ester menghubungkan asam lemak dengan pektin dari dinding sel epidermis. Kutin merupakan salah satu komponen penyusun kutikula tumbuhan selain lilin lapisan penutup dan polisakarida pektin yang menempel pada dinding sel. Kutin serupa dengan suberin karena keduanya memiliki fraksi poliester lipid utama, tapi suberin memiliki lebih banyak fraksi fenol dan dalam hal jenis asam lemaknya

 3.     Kitin adalah polisakarida struktural yang digunakan untuk menyusun eksoskleton dari artropoda (serangga, laba-laba, krustase, dan hewan-hewan lain sejenis). Kitin tergolong homopolisakarida linear yang tersusun atas residu N-asetilglukosamin pada rantai beta dan memiliki monomer berupa molekul glukosa dengan cabang yang mengandung nitrogen. Kitin murni mirip dengan kulit, namun akan mengeras ketika dilapisi dengan garam kalsium karbonat. Kitin membentuk serat mirip selulosa yang tidak dapat dicerna oleh vertebrata. Kitin adalah polimer yang paling melimpah di laut. Sedangkan pada kelimpahan di muka bumi, kitin menempati posisi kedua setelah selulosa.Hal ini karena kitin dapat ditemukan di berbagai organisme eukariotik termasuk serangga, moluska, krustase, fungi, alga, dan protista

 4.     Glukosa, suatu gula monosakarida, adalah salah satu karbohidrat terpenting yang digunakan sebagai sumber tenaga bagi hewan dan tumbuhan. Glukosa merupakan salah satu hasil utama fotosintesis dan awal bagi respirasi. Bentuk alami (D-glukosa) disebut juga dekstrosa, terutama pada industri pangan. Glukosa (C6H12O6, berat molekul 180.18) adalah heksosa—monosakarida yang mengandung enam atom karbon. Glukosa merupakan aldehida (mengandung gugus -CHO). Lima karbon dan satu oksigennya membentuk cincin yang disebut “cincin piranosa”, bentuk paling stabil untuk aldosa berkabon enam. Dalam cincin ini, tiap karbon terikat pada gugus samping hidroksil dan hidrogen kecuali atom kelimanya, yang terikat pada atom karbon keenam di luar cincin, membentuk suatu gugus CH2OH. Struktur cincin ini berada dalam kesetimbangan dengan bentuk yang lebih reaktif, yang proporsinya 0.0026% pada pH 7. Glukosa merupakan sumber tenaga yang terdapat di mana-mana dalam biologi. Kita dapat menduga alasan mengapa glukosa, dan bukan monosakarida lain seperti fruktosa, begitu banyak digunakan. Glukosa dapat dibentuk dari formaldehida pada keadaan abiotik, sehingga akan mudah tersedia bagi sistem biokimia primitif. Hal yang lebih penting bagi organisme tingkat atas adalah kecenderungan glukosa, dibandingkan dengan gula heksosa lainnya, yang tidak mudah bereaksi secara nonspesifik dengan gugus amino suatu protein. Reaksi ini (glikosilasi) mereduksi atau bahkan merusak fungsi berbagai enzim. Rendahnya laju glikosilasi ini dikarenakan glukosa yang kebanyakan berada dalam isomer siklik yang kurang reaktif. Meski begitu, komplikasi akut seperti diabetes, kebutaan, gagal ginjal, dan kerusakan saraf periferal (‘’peripheral neuropathy’’), kemungkinan disebabkan oleh glikosilasi protein. Dalam respirasi, melalui serangkaian reaksi terkatalisis enzim, glukosa teroksidasi hingga akhirnya membentuk karbon dioksida dan air, menghasilkan energi, terutama dalam bentuk ATP. Sebelum digunakan, glukosa dipecah dari polisakarida. Glukosa dan fruktosa diikat secara kimiawi menjadi sukrosa. Pati, selulosa, dan glikogen merupakan polimer glukosa umum polisakarida). Dekstrosa terbentuk akibat larutan D-glukosa berotasi terpolarisasi cahaya ke kanan. Dalam kasus yang sama D-fruktosa disebut “levulosa” karena larutan levulosa berotasi terpolarisasi cahaya ke kiri

 5.     Selulosa (C6H10O5)n adalah polimer berantai panjang polisakarida karbohidrat, dari beta-glukosa. Selulosa merupakan komponen struktural utama dari tumbuhan dan tidak dapat dicerna oleh manusia

 6.     Hemiselulosa merujuk pada polisakarida yang mengisi ruang antara serat-serat selulosa dalam dinding sel tumbuhan. Secara biokimiawi, hemiselulosa adalah semua polisakarida yang dapat diekstraksi dalah larutan basa (alkalis). Namanya berasal dari anggapan, yang ternyata diketahui tidak benar, bahwa hemiselulosa merupakan senyawa prekursor (pembentuk) selulosa. Monomer penyusun hemiselulosa biasanya adalah rantai D-glukosa, ditambah dengan berbagai bentuk monosakarida yang terikat pada rantai, baik sebagai cabang atau mata rantai, seperti D-mannosa, D-galaktosa, D-fukosa, dan pentosa-pentosa seperti D-xilosa dan L-arabinosa. Komponen utama hemiselulosa pada Dicotyledoneae didominasi oleh xiloglukan, sementara pada Monocotyledoneae komposisi hemiselulosa lebih bervariasi. Pada gandum, ia didominasi oleh arabinoksilan, sedangkan pada jelai dan haver didominasi oleh beta-glukan.

7.     Polisakarida adalah polimer dengan beberapa ratus hingga ribu monosakarida yang dihubungkan dengan ikatan glikosidik. Polisakarida dibedakan menjadi dua jenis, yaitu polisakarida simpanan dan polisakarida struktural. Polisakarida simpanan berfungsi sebagai materi cadangan yang ketika dibutuhkan akan dihidrolisis untuk memenuhi permintaan gula bagi sel. Sedangkan polisakarida struktural berfungsi sebagai materi penyusun dari suatu sel atau keseluruhan organisme. Arsitektur dan fungsi suatu polisakarida ditentukan oleh jumlah monomer gula dan posisi ikatan glikosidiknya.

8. Lignin atau zat kayu adalah salah satu zat komponen penyusun tumbuhan. Komposisi bahan penyusun ini berbeda-beda bergantung jenisnya. Lignin terutama terakumulasi pada batang tumbuhan berbentuk pohon dan semak. Pada batang, lignin berfungsi sebagai bahan pengikat komponen penyusun lainnya, sehingga suatu pohon bisa berdiri tegak (seperti semen pada sebuah batang beton). Berbeda dengan selulosa yang terbentuk dari gugus karbohidrat, struktur kimia lignin sangat kompleks dan tidak berpola sama. Gugus aromatik ditemukan pada lignin, yang saling dihubungkan dengan rantai alifatik, yang terdiri dari 2-3 karbon. Proses pirolisis lignin menghasilkan senyawa kimia aromatis berupa fenol, terutama kresol

9. Pektin merupakan segolongan polimer heterosakarida yang diperoleh dari dinding sel tumbuhan darat. Pertama kali diisolasi oleh Henri Braconnot tahun 1825. Wujud pektin yang diekstrak adalah bubuk putih hingga coklat terang. Pektin banyak dimanfaatkan pada industri pangan sebagai bahan perekat dan stabilizer (agar tidak terbentuk endapan). Pektin pada sel tumbuhan merupakan penyusun lamela tengah, lapisan penyusun awal dinding sel. Sel-sel tertentu, seperti buah, cenderung mengumpulkan lebih banyak pektin. Pektinlah yang biasanya bertanggung jawab atas sifat “lekat” (Jawa: pliket) apabila seseorang mengupas buah. Penyusun utama biasanya polimer asam D-galakturonat, yang terikat dengan α-1,4-glikosidik. Asam galakturonat memiliki gugus karboksil yang dapat saling berikatan dengan ion Mg2+ atau Ca2+ sehingga berkas-berkas polimer “berlekatan” satu sama lain. Ini menyebabkan rasa “lengket” pada kulit. Tanpa kehadiran kedua ion ini, pektin larut dalam air. Garam-garam Mg- atau Ca-pektin dapat membentuk gel, karena ikatan itu berstruktur amorf (tak berbentuk pasti) yang dapat mengembang bila molekul air “terjerat” di antara ruang-ruang. Penggunaan pektin yang paling umum adalah sebagai bahan perekat/pengental (gelling agent) pada selai dan jelly. Pemanfaatannya sekarang meluas sebagai bahan pengisi, komponen permen, serta sebagai stabilizer untuk jus buah dan minuman dari susu, juga sebagai sumber serat dalam makanan.

 

 

Soal Remidial Kelas X Biologi

Posted: September 22, 2011 in Uncategorized

Jawablah Pertanyaan Berikut ini !

1. Jelaskan 7 ciri yag dimiliki ilmu Biologi !

2. Jelaskan apa yang dipelajari ilmu Biologi pada tingkat sel sampai dengan bioma !

3. Sebut dan jelaskan cabang-cabang ilmu Biologi berdasarkan 4 kategori besar !

4. Jelaskan 5 tahapan dalam sebuah penelitian ilmiah !

5. Buat sebuah judul penelitian, kemudian tentukan variabel bebas, variabel terikat, dan variabel kontrolnya !

Tulis jawaban pada selembar kertas, kumpulkan di meja saya beserta kertas ulangan yang sudah ditanda tangani + nama ortunya !

RPP Biologi Berkarakter kelas XI

Posted: September 21, 2011 in Uncategorized

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Nama Sekolah                                 : SMA Negeri 4 Probolinggo         

Kelas / Program / Semester         :  XI / IPA / Ganjil

Mata Pelajaran                               :  Biologi

Tahun Pelajaran                             :  2011 / 2012

Alokasi Waktu                                 :  12 x 45’

 

Standar Kompetensi            :

3.  Menjelaskan struktur dan fungsi organ manusia dan hewan tertentu, kelainan/penyakit yang mungkin terjadi serta implikasinya pada Salingtemas.

 

Kompetensi Dasar                :

3.1  Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem gerak  pada manusia.

 

Indikator Pencapaian Kompetensi :

  1. Menjelaskan fungsi sistem gerak (tulang, sendi, dan otot) pada manusia.
  2. Mengidentifikasi struktur tulang (tulang keras dan tulang rawan)
  3. Menjelaskan proses terjadinya pada sistem gerak (tulang dan otot) pada manusia.
  4. Mengidentifikasi jenis-jenis tulang penyusun rangka manusia.
  5. Mengidentifikasi jenis persendian pada sistem gerak manusia.
  6. Mengidentifikasi struktur otot pada manusia.
  7. Mengidentifikasi jenis-jenis gerak pada mausia.
  8. Menjelaskan berbagai kelainan yang terjadi pada sistem gerak (tulang, sendi, dan otot).
  9. Memberi contoh teknologi yang berhubungan dengan kelainan yang terjadi pada sistem gerak.

 

Tujuan Pembelajaran :

Peserta didik mampu :

  1. Menjelaskan fungsi rangka pada manusia.
  2. Menyebutkan jenis-jenis tulang penyusun rangka manusia.
    1. Menjelaskan struktur tulang (tulang keras dan tulang rawan) pada manusia.
    2. Menjelaskan urutan proses pembentukan tulang.
    3. Mengidentifikasi jenis-jenis persendiaan pada sistem gerak manusia.
    4. Menjelaskan perbedaan struktur otot polos, otot lurik, dan otot jantung pada manusia.
    5. Menjelaskan jenis-jenis gerak pada manusia.
    6. Menjelaskan berbagai kelainan yang terjadi pada sistem gerak manusia.
    7. Menjelaskan salah satu contoh teknologi kedokteran yang erhubungan dengan sistem gerak pada manusia.

 

Nilai pendidikan karakter yang ditanamkan ke siswa : Kreatif  dan Gemar Membaca

 

Materi Pembelajaran          :

  1. Sistem Gerak pada Manusia

 

Metode dan Pembelajaran          :

  1. Model Pembelajaran
  2. Metode
  1. Cooperative Learning
  2. Direct Instruction (DI)
  1. Tanya jawab
  2. Diskusi
  3. Eksperimen

 

Langkah-langkah Kegiatan

Pertemuan Pertama

  1. 1.     Kegiatan Pendahuluan (10 menit)
    1. Melihat kesiapan kelas (siswa).
    2. Motivasi
  • Meminta siswa untuk menyebutkan organ-organ penyusun sistem gerak pada manusia.
  1. Prasyarat pengetahuan
  • Siswa telah mengetahui organ-organ penyusun sistem gerak pada manusia.
  1. 2.     Kegiatan Inti (70 menit)
    1. Eksplorasi
  • Guru menjelaskan fungsi rangka pada manusia.
  • Guru menjelaskan jenis-jenis tulang penyusun rangka manusia.
  • Guru menjelaskan urutan proses pembentuka tulang.
  • Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok praktikum.
  1. Elaborasi
  • Siswa melakukan praktikum pengamatan terhadap struktur jaringan penyusun tulang keras.
  • Siswa bertanya kepada guru tentang hal-hal yang belum diketahui.
  1. Konfirmasi
  • Guru membahas hasil praktikum secara klasikal.
  • Guru menanyakan kesimpulan dari praktikum tentang struktur jaringan penyusun tulag keras.
  1. 3.     Kegiatan Penutup (10 menit)
    1. Guru menyimpulkan hasil pembelajaran hari ini.
    2. Guru meminta siswa untuk mempelajari kembali materi yang dibahas pada pertemuan ini.
    3. Guru meminta siswa membuat laporan sementara dari hasil praktikum.

 

Pertemuan Kedua

  1. 1.     Kegiatan Pendahuluan (10 menit)
    1. Melihat kesiapan kelas (siswa).
    2. Motivasi
  • Meminta siswa untuk menyebutkan peran persendiaan bagi sistem gerak pada manusia.
  1. Prasyarat pengetahuan
  • Siswa mengetahui peran persendiaan bagi sistem gerak pada manusia.
  1. 2.     Kegiatan Inti (70 menit)
    1. Eksplorasi
  • Guru menjelaskan jenis-jenis persendiaan pada sistem gerak manusia.
  • Guru menjelaskan berbagai kelainan yang terjadi pada sistem gerak manusia.
  1. Elaborasi
  • Siswa bertanya pada guru tentang hal-hal yang belum diketahui.
  1. Konfirmasi
  • Guru menjawab pertanyaan siswa tentang hal-hal yang belum diketahui siswa.
  1. 3.     Kegiatan Penutup (10 menit)
    1. Guru menyimpulkan hasil pembelajaran hari ini.
    2. Guru meminta siswa untuk mempelajari kembali materi yang dibahas pada pertemuan ini.
    3. Guru memberi tugas rumah kepada siswa.

 

Pertemuan Ketiga

  1. 1.     Kegiatan Pendahuluan (10 menit)
    1. Melihat kesiapan kelas (siswa).
    2. Motivasi
  • Meminta siswa untuk menyebutkan jenis-jenis otot pada manusia.
  1. Prasyarat pengetahuan
  • Siswa mengetahui tentang jenis-jenis otot pada manusia.

 

  1. 2.     Kegiatan Inti (70 menit)
    1. Eksplorasi
  • Guru menjelaskan perbedaan struktur otot polos, otot lurik, dan otot jantung.
  • Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok praktikum.
  1. Elaborasi
  • Siswa melakukan praktikum percobaan untuk membandingkan struktur otot polos, otot lurik, dan otot jantung.
  1. Konfirmasi
  • Guru membahas hasil praktikum secara klasikal.
  • Guru menanyakan kesimpulan dari praktikum tentang pengamatan terhadap struktur otot polos, otot lurik, dan otot jantung.
  1. 3.     Kegiatan Penutup (10 menit)
    1. Guru menyimpulkan hasil pembelajaran hari ini.
    2. Guru meminta siswa untuk mempelajari kembali materi yang dibahas pada pertemuan ini.
    3. Guru meminta siswa membuat laporan sementara dari hasil praktikum.

 

Pertemuan Keempat

  1. 1.     Kegiatan Pendahuluan (10 menit)
    1. Melihat kesiapan kelas (siswa).
    2. Motivasi
  • Meminta siswa untuk menyebutkan berbagai contoh gerak pada manusia.
  1. Prasyarat pengetahuan
  • Siswa mengetahui tentang berbagai contoh gerak pada manusia.

 

  1. 2.     Kegiatan Inti (70 menit)
    1. Eksplorasi
  • Guru menjelaskan jenis-jenis gerak pada manusia.
  • Guru menjelaskan berbagai kelainan yang terjadi pada sistem gerak manusia.
  1. Elaborasi
  • Siswa bertanya pada guru tentang hal-hal yang belum diketahui.
  1. Konfirmasi
  • Guru menjawab pertanyaan siswa tentang hal-hal yang ditanyakan siswa.
  1. 3.     Kegiatan Penutup (10 menit)
    1. Guru menyimpulkan hasil pembelajaran hari ini.
    2. Guru meminta siswa untuk mempelajari kembali materi yang dibahas pada pertemuan ini.
    3. Guru meminta siswa mencari informasi mengenai teknologi kedokteran yang berhubungan dengan sistem gerak pada manusia.

 

Alat Sumber Belajar

  1. Buku PR Biologi Kelas XI Semester 1, Intan Pariwara, hlm. 64-74
  2. Buku PR PG Biologi Kelas XI Semester 1, Intan Pariwara, hlm. 120-142
  3. Buku Biology 2 (Priadi Arif, 2009, Biology 2 for Senior High School Year XI, Jakarta: Yudistira, Hal: 90-113)
  4. Seperangkat alat dan bahan untuk mengamati struktur jaringan penyusun tulang keras
  5. Seperangkat alat dan bahan untuk mengamati struktur anatomis otot polos, otot lurik, dan otot jantung

 

Penilaian       Hasil Belajar

  1. 1.     Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen

Teknik

Bentuk Instrumen

  1. Tes tulis
Pilihan ganda
  1. Tes lisan
Uraian
  1. Tes unjuk kerja
Uji petik kerja prosedur
  1. Portofolio
Dokumen pekerjaan

 

  1. 2.     Contoh Instrumen

 

  1. a.      Pilihan Ganda dan Uraian
    1. Berikut ini yang termasuk fungsi rangka, kecuali
      1. Memberi bentuk tubuh
      2. Sebagai alat gerak pasif
      3. Tempat pembentukan sel darah merah
      4. Melindungi bagian tubuh yang lunak
      5. Penopang dan penunjang tegaknya tubuh
      6. Jelaskan urutan proses pembentukan tulang !

 

  1. b.     Uji petik kerja prosedur

Potonglah tulang paha sapi dengan gergaji besi. Gosoklah irisn tulang dengan ampelas. Teteskan larutan entelan di atas gelas benda dan letakkan irisan tulang pada entelan. Tutuplah irisan dengan gelas penutup. Amatilah dengan mikroskop !

Rubrik

No.

Aspek

Skor Maksimum

Skor Perolehan Siswa

1.

2.

3.

4.

Kesesuaian kegiatan dengan prosedur

Perolehan data

Pengolahan data

Kesimpulan

10

 

15

25

5

 
  Total

50

 

 

Nilai akhir  x 100

 

 

  1. c.      Portofolio

Carilah informasi mengenai teknologi kedokteran yang berhubungan dengan sistem gerak pada manusia !

 

Mengetahui

Kepala SMAN 4 Probolinggo

Drs. H. SURADJI CHABIR, M.PdI

NIP. 19570216 198303 1 006

Probolinggo, 15 Juli 2011

Guru Mata Pelajaran Biologi

 

 

MOH. TAUFAN AFFANDY, S.Pd

NIP. 19830820 200604 1 008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Nama Sekolah                                 : SMA Negeri 4 Probolinggo         

Kelas / Program / Semester         :  XI / IPA / Ganjil

Mata Pelajaran                               :  Biologi

Tahun Pelajaran                             :  2011 / 2012

Alokasi Waktu                                 :  12 x 45’

 

Standar Kompetensi            :

3.  Menjelaskan struktur dan fungsi organ manusia dan hewan tertentu, kelainan/penyakit yang mungkin terjadi serta implikasinya pada Salingtemas.

 

Kompetensi Dasar                :

3.2  Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang  dapat terjadi pada sistem peredaran darah.

 

Indikator Pencapaian Kompetensi :

  1. Mengidentifikasi komponen-komponen penyusun sel darah manusia.
  2. Mengidentifikasi golongan darah seseorang.
  3. Menjelaskan fungsi bagian-bagian jantung.
  4. Menjelaskan struktur otot ventrikel kanan dan kiri.
  5. Mengukur tekanan darah seseorang.
  6. Menjelaskan struktur dan pembuluh darah.
  7. Mengidentifikasi pe-nyakit kelainan dalam sistem peredaran darah.
  8. Membandingkan struktur fungsi, dan proses sistem peredaran darahpada hewan.
  9. Mengidentifikasi perbedaan antara sistem peredaran darah pada manusia dengan hewan.

 

Tujuan Pembelajaran :

Peserta didik mampu :

  1. Menjelaskan komponen-komponen penyusun sel darah.
  2. Mendeskripsikan golongan darah seseorang.
    1. Menjelaskan fungsi bagian-bagian jantung.
    2. Mendeskripsikan struktur otot ventrikel kanan dan kiri.
    3. Mengetahui cara mengukur tekanan darah seseorang.
    4. Membedakan pembuluh darah arteri, vena dan kapiler.
    5. Menjelaskan ciri-ciri penyakit atau kelainan pada sistem peredaran darah manusia.
    6. Menjelaskan struktur, fungsi, dan proses sistem peredaran darah pada hewan.

 

Nilai pendidikan karakter yang ditanamkan ke siswa : Peduli Sosial dan Mandiri

 

Materi Pembelajaran          :

  1. Peredaran Darah pada Manusia
  2. Peredaran Darah pada Hewan

 

Metode dan Pembelajaran          :

  1. Model Pembelajaran
  1. Cooperative Learning
  2. Direct Instruction (DI)

 

  1. Metode
  1. Tanya jawab
  2. Diskusi
  3. Eksperimen

 

Langkah-langkah Kegiatan

Pertemuan Pertama

  1. 1.     Kegiatan Pendahuluan (10 menit)
    1. Melihat kesiapan kelas (siswa).
    2. Motivasi
  • Meminta siswa untuk menjelaskan alasan tes darah bisa digunakan untuk mengetahui adanya penyakit pada seseorang.
  1. Prasyarat pengetahuan
  • Siswa telah mengetahui organ-organ penyusun sistem peredaran darah pada manusia.
  1. 2.     Kegiatan Inti (70 menit)
    1. Eksplorasi
  • Guru menjelaskan komponen-komponen penyusu darah beserta fungsinya.
  • Guru menjelaskan macam-macam golongan darah.
  • Guru menjelaskan gangguan dan penyakit pada sistem peredaran darah manusia.
  • Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok praktikum.
  1. Elaborasi
  • Sebagian kelompok siswa melakukan praktikum pengamatan sel-sel darah manusia dan sebagian lagi melakukan praktikum pengujian golongan darah.
  • Siswa bertanya kepada guru tentang hal-hal yang belum diketahui.
  1. Konfirmasi
  • Guru membahas hasil praktikum secara klasikal.
  • Guru menanyakan kesimpulan dari praktikum tentang macam-macam sel darah pada manusia dan golongan darah berdasarkan sistem ABO.
  1. 3.     Kegiatan Penutup (10 menit)
    1. Guru menyimpulkan hasil pembelajaran hari ini.
    2. Guru meminta siswa untuk mempelajari kembali materi yang dibahas pada pertemuan ini.
    3. Guru meminta siswa membuat laporan sementara dari hasil praktikum.

 

Pertemuan Kedua

  1. 1.     Kegiatan Pendahuluan (10 menit)
    1. Melihat kesiapan kelas (siswa).
    2. Motivasi
  • Meminta siswa untuk menyebutkan bagian-bagian jantung.
  1. Prasyarat pengetahuan
  • Siswa mengetahui organ-organ yang berperan dalam peredaran darah.
  1. 2.     Kegiatan Inti (70 menit)
    1. Eksplorasi
  • Guru menjelaskan bagian-bagian jantung serta fungsinya.
  • Guru menjelaskan macam-macam pembuluh darah dan fungsinya.
  • Guru menjelaskan berbagai macam kelainan dan penyakit pada sistem peredaran darah manusia.
  • Guru menjelaskan mekanisme peredaran darah pada manusia.
  • Guru membentuk kelompok-kelompok siswa.
  1. Elaborasi
  • Siswa melakukan praktikum mengukur tekanan darah.
  1. Konfirmasi
  • Guru membahas hasil praktikum secara klasikal.
  • Guru menanyakan kesimpulan dari praktikum yang telah dilakukan siswa.
  1. 3.     Kegiatan Penutup (10 menit)
    1. Guru menyimpulkan hasil pembelajaran hari ini.
    2. Guru meminta siswa untuk mempelajari kembali materi yang dibahas pada pertemuan ini.
    3. Guru memberi tugas rumah kepada siswa untuk mempelajari sistem peredaran darah pada hewan.

 

Pertemuan Ketiga

  1. 1.     Kegiatan Pendahuluan (10 menit)
    1. Melihat kesiapan kelas (siswa).
    2. Motivasi
  • Menanyakan kepada siswa tentang sistem peredaran darah pada salah satu jenis hewan.
  1. Prasyarat pengetahuan
  • Siswa mengetahui tentang sistem peredaran darah hewan.

 

  1. 2.     Kegiatan Inti (70 menit)
    1. Eksplorasi
  • Guru menjelaskan jenis-jenis peredaran darah pada hewan.
  • Guru menjelaskan sistem peredaran darah pada udang, Mollusca, serangga, dan cacing.
  1. Elaborasi
  • Siswa mengerjakan soal latihan.
  1. Konfirmasi
  • Guru bersama siswa membahas soal latihan yang sudah dikerjakan siswa.
  1. 3.     Kegiatan Penutup (10 menit)
    1. Guru menyimpulkan hasil pembelajaran hari ini.
    2. Guru meminta siswa untuk mempelajari kembali materi yang dibahas pada pertemuan ini.
    3. Guru meminta siswa mempelajari sistem peredaran darah pada hewan Vertebrata.

 

Pertemuan Keempat

  1. 1.     Kegiatan Pendahuluan (10 menit)
    1. Melihat kesiapan kelas (siswa).
    2. Motivasi
  • Menanyakan kepada siswa tentang sistem peredaran darah pada ikan.
  1. Prasyarat pengetahuan
  • Siswa mengetahui alat peredaran darah ikan.

 

  1. 2.     Kegiatan Inti (70 menit)
    1. Eksplorasi
  • Guru menjelaskan sistem peredaran darah pada golongan ikan dan amfibi.
  • Guru menjelaskan sistem peredaran darah pada golongan reptil dan aves.
  • Guru memberi tugas kepada siswa untuk membuat tabel perbedaan sistem peredaran darah pada Vertebrata.
  1. Elaborasi
  • Siswa membuat tabel perbedaan sistem peredaran darah pada udang, Mollusca, serangga, cacing, dan hewan Vertebrata.
  1. Konfirmasi
  • Guru bersama siswa membahas tabel yang sudah dibuat siswa.
  1. 3.     Kegiatan Penutup (10 menit)
    1. Guru menyimpulkan hasil pembelajaran hari ini.
    2. Guru meminta siswa untuk mempelajari kembali materi yang dibahas pada pertemuan ini.

 

Alat Sumber Belajar

  1. Buku PR Biologi Kelas XI Semester 1, Intan Pariwara, hlm. 80-89
  2. Buku PR PG Biologi Kelas XI Semester 1, Intan Pariwara, hlm. 148-176
  3. Buku Biology 2 (Priadi Arif, 2009, Biology 2 for Senior High School Year XI, Jakarta: Yudistira, Hal: 124-143)
  4. Seperangkat alat dan bahan untuk menga-mati preparat sel darah
  5. Seperangkat alat dan bahan untuk prakti-kum menentu-kan golongan darah sese-orang
  6. Sphigmomanometer dan stetoskop un-tuk mengukur tekanan darah seseorang

 

Penilaian       Hasil Belajar

  1. 1.     Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen

Teknik

Bentuk Instrumen

  1. Tes tulis
Pilihan ganda
  1. Tes lisan
Uraian
  1. Tes unjuk kerja
Uji petik kerja prosedur
  1. Portofolio
Dokumen pekerjaan

 

  1. 2.     Contoh Instrumen
    1. a.      Pilihan Ganda dan Uraian
      1. Leukosit bertufas memusnahkan benda asing yang masuk ke dalam tubuh manusia. Namun jumlah leukosit yang kurang dan berlebihan dapat menimbulkan gangguan. Penyakit akibat kelebihan leukosit disebut …
        1. Leukemia
        2. Luekopenia
        3. Hemofilia
        4. Anemia
        5. Thalasemia
        6. Jelaskan ciri-ciri pembuluh kapiler dan fungsinya !
        7. b.     Uji petik kerja prosedur

Bersihkan ujung jari dan tusuk bagian tersebut dengan lanset. Teteskan darah pada gelas benda dan uji dengan antiserum. Tentukan golongan darahnya !

Rubrik

No.

Aspek

Skor Maksimum

Skor Perolehan Siswa

1.

2.

3.

4.

Kesesuaian kegiatan dengan prosedur

Perolehan data

Pengolahan data

Kesimpulan

10

 

15

25

5

 
  Total

50

 

 

Nilai akhir  x 100

 

  1. c.      Portofolio

Butalah tabel perbedaan sistem peredaran darah pada berbagai hewan !

 

Mengetahui

Kepala SMAN 4 Probolinggo

Drs. H. SURADJI CHABIR, M.PdI

NIP. 19570216 198303 1 006

Probolinggo, 15 Juli 2011

Guru Mata Pelajaran Biologi

 

 

MOH. TAUFAN AFFANDY, S.Pd

NIP. 19830820 200604 1 008

 

Jaringan Tumbuhan (new)

Posted: September 21, 2011 in Uncategorized

A. JARINGAN TUMBUHAN

Jaringan-jaringan pada tumbuhan ada yang bersifat meristematis, yaitu jaringan muda yang masih aktif membelah dan ada juga yang bersifat permanen, yaitu jaringan dewasa yang tidak membelah.

1. Jaringan Meristem

Jika diperhatikan, tumbuhan dewasa tidak langsung menjadi besar dengan tiba-tiba. Pertumbuhannya dimulai dari kecil, kemudian seiring bertambahnya waktu, maka dia akan bertambah besar. Mengapa bisa terjadi seperti itu? Ketika belajar di SMP/MTs, Anda pernah mendapatkan materi pelajaran tentang jaringan meristem. Coba ingat kembali tentang jaringan meristem itu!
Untuk membuktikan kerja dari jaringan meristem tumbuhan, Anda dapat mengamati tumbuh-tumbuhan di sekitar rumah atau lingkungan! Jika Anda amati, ternyata tanaman itu semakin hari akan bertambah tinggi atau panjang dan besar. Tahukah Anda, apakah penyebabnya? Pertumbuhan tinggi dan besar ini disebabkan adanya aktivitas pembelahan pada jaringan tumbuhan. Jaringan yang aktif membelah ini disebut jaringan meristem.
Jaringan meristem mempunyai sifat-sifat antara lain, terdiri atas sel-sel muda dalam fase pembelahan dan pertumbuhan. Pada jaringan meristem, biasanya tidak ditemukan adanya ruang antarsel, di antaranya sel-sel meristem. Sel-sel meristem berbentuk bulat, lonjong atau poligonal dengan dinding sel yang tipis. Masing-masing selnya mengandung banyak sitoplasma dan mengandung satu atau lebih inti sel. Vakuola sel pada sel-sel meristem sangat kecil dan kadang-kadang tidak ada.
Meristem dikelompokkan berdasarkan berbagai kriteria, antara lain berdasarkan letaknya dan terjadinya. Untuk selanjutnya akan dibahas pada uraian di bawah ini.
Berdasarkan letaknya, meristem dibedakan sebagai berikut.

a. Meristem Ujung (Apikal)

Meristem ujung (apikal) merupakan jaringan muda yang terbentuk oleh sel-sel initial yangberada pada ujung-ujung dari alat-alat tumbuhan. Dengan adanya meristem ini, tumbuhan dapat bertambah tinggi dan panjang. Meristem ini dapat Anda lihat pada Gambar 2.2.

 b. Meristem Samping (Lateral)

Meristem lateral merupakan jaringan muda yang terbentuk oleh selsel initial yang terletak antara bagian alat-alat tumbuhan (antara jaringanjaringan dewasa). Akibat aktivitas meristem ini tumbuhan akan mengalami penambahan besar ke samping. Coba Anda sebutkan tumbuhan apa saja di sekitar Anda yang dapat mengalami pertumbuhan membesar pada batangnya. Agar lebih jelas, perhatikan Gambar 2.3!

   Berdasarkan terjadinya, jaringan meristem dibedakan menjadi dua.

a. Meristem Primer

Meristem primer merupakan jaringan muda yang berasal dari sel-sel initial yang disebut promeristem. Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Haberlandt, promeristem akan berkembang menjadi protoderm, prokambium, dan meristem dasar. Protoderm akan berdeferensiasi menjadi jaringan epidermis, prokambium akan berdeferensiasi menjadi sistem jaringan pengangkut, sedangkan meristem dasar akan berkembang menjadi parenkim (jaringan dasar).
Meristem primer terletak pada ujung akar dan ujung batang tumbuhan. Menurut Hanstein, pada bagian ujung akar dibagi menjadi tiga daerah, yaitu :

  1. dermatogen yang akan berkembang menjadi epidermis;
  2. periblem yang akan berkembang menjadi korteks;
  3. pleron yang akan berkembang menjadi stele.

Meristem pada ujung batang menurut Schmidt dibagi menjadi dua bagian.

1) Korpus

Bagian ini merupakan bagian pusat dari titik tumbuh, yang memiliki area yang luas dan sel-selnya relatif besar. Sel-sel pada bagian korpus ini akan membelah secara tak beraturan.
2) Tunika
Bagian ini merupakan bagian paling luar dari titik tumbuh. Tunika terdiri atas satu atau beberapa lapis sel, dengan sel-sel yang relatif kecil dan mengalami pembelahan ke samping (ke arah lateral).

b. Meristem Sekunder

Meristem ini berasal dari jaringan dewasa dan selanjutnya berubah menjadi meristematis. Sel-sel meristem sekunder berbentuk pipih atau prisma yang di bagian tengahnya terdapat vakuola. Contohnya, kambium dan kambium gabus. Kambium dijumpai di dalam batang dan akar dari tumbuhan golongan dikotil dan Gymnospermae, serta beberapa tumbuhan dari golongan monokotil (Agave, Aloe, Jucca, dan Draceana). Kambium gabus terdapat pada kulit batang tumbuhan dan dapat membentuk jaringan gabus yang sukar dilalui air.

 2. Jaringan Permanen/Dewasa

Jaringan permanen (dewasa) merupakan jaringan yang tidak aktif membelah lagi dan sudah mengalami diferensiasi. Jaringan ini mempunyai ukuran yang relatif besar dibandingkan sel-sel meristem. Jaringan permanen memiliki vakuola yang besar sehingga plasma sel sedikit dan merupakan selaput yang menempel pada dinding sel. Sel-selnya telah mengalami penebalan dinding sesuai dengan fungsinya, dan di antara sel-selnya dijumpai ruang antarsel.

a. Epidermis

Jaringan epidermis ini berada paling luar pada alat-alat tumbuhan primer seperti akar, batang daun, bunga, buah, dan biji. Epidermis tersusun atas satu lapisan sel saja. Bentuknya bermacam-macam, misalnya isodiametris yang memanjang, berlekuk-lekuk, atau menampakkan bentuk lain. Epidermis tersusun sangat rapat sehingga tidak terdapat ruangan antarsel. Epidermis merupakan sel hidup karena masih mengandung protoplas, walaupun dalam jumlah sedikit. Terdapat vakuola yang besar di tengah dan tidak mengandung plastida.
Penebalan-penebalan yang terjadi pada membran sel epidermis biasanya merupakan penebalan sekunder yang terdiri atas selulosa yang berwujud sebagai garis-garis lamela. Pada tanaman kering (xerophita), penebalan tidak hanya mengandung selulosa saja, tetapi juga mengandung zat kitin. Selain itu, pada membran sel yang saling berhadapan dengan udara lingkungannya, umumnya penebalan semakin tebal karena adanya lapisan kutikula sehingga sel-sel epidermisnya menjadi sulit untuk dilalui air dan penguapan menjadi terbatas. Pada tumbuhan air (hidrophita), membran selnya tidak mengandung zat kitin maupun kutikula, kadang-kadang mengandung lemak dan damar.
Pada tumbuhan tertentu, lapisan epidermis selain mengandung kutikula juga mengandung lapisan lilin yang tidak dapat ditembus air. Pada tumbuhan golongan Gramineae, Cyperaceae, Equistinae, memiliki permukaan yang keras dan kaku. Ini disebabkan adanya zat-zat karbonat dan kersik pada sel-sel epidermis. Pada tumbuhan Ficus elastica terdapat hidrodermis yang bisa berfungsi sebagai tempat penyimpanan air.
Sel-sel initial epidermis sebagian dapat berkembang menjadi alat-alat tambahan lain yang sering disebut derivat epidermis, seperti stomata, trikoma, dan sel kipas.

1) Stomata

Stomata adalah celah yang terdapat pada epidermis organ tumbuhan. Pada semua tumbuhan yang berwarna hijau, lapisan epidermis mengandung stomata paling banyak pada daun. Stomata terdiri atas bagian-bagian yaitu sel penutup, bagian celah, sel tetangga, dan ruang udara dalam. Sel tetangga berperan dalam perubahan osmotik yang menyebabkan gerakan sel penutup yang mengatur lebar celah. Sel penutup dapat terletak sama tinggi dengan permukan epidermis (panerofor) atau lebih rendah dari permukaan epidermis (kriptofor) dan lebih tinggi dari permukaan epidermis (menonjol). Pada tumbuhan dikotil, sel penutup biasanya berbentuk seperti ginjal bila dilihat dari atas. Sedangkan pada tumbuhan rumput-rumputan memiliki struktur khusus dan seragam dengan sel penutup berbentuk seperti halter dan dua sel tetangga terdapat masing-masing di samping sebuah sel penutup. Untuk memahami struktur stomata, Anda dapat melihatnya pada Gambar 2.5!

2) Trikoma

Trikoma terdiri atas sel tunggal atau banyak sel. Struktur yang
menyerupai trikoma, tetapi tidak besar dan terbentuk dari jaringan
epidermis atau di bawah epidermis disebut emergensia, sedangkan apabila
terbentuk dari jaringan stele disebut spina.
Peranan trikoma bagi tumbuhan, antara lain sebagai berikut.
a) Trikoma yang terdapat pada epidermis daun berfungsi untuk mengurangi penguapan.
b) Menyerap air serta garam-garam mineral.
c) Mengurangi gangguan hewan.
Trikoma dibedakan menjadi dua, yaitu :

a) Trikoma Glanduler

Trikoma glanduler merupakan trikoma yang dapat menghasilkan sekret. Trikoma glanduler dapat bersel satu atau banyak. Tumbuhan yang memiliki trikoma glanduler, contohnya, tembakau (Nicotiana tabacum) yang terletak pada daunnya.
Macam-macam trikoma glanduler antara lain:

  1. trikoma hidatoda, terdiri atas sel tangkai dan beberapa sel kepala dan mengeluarkan larutan yang berisi asam organik;
  2. kelenjar madu, berupa rambut bersel satu atau lebih dengan plasma yang kental dan mampu mengeluarkan madu ke permukaan sel permukaan sel;
  3. kelenjar garam terdiri atas sebuah sel kelenjar besar dengan tangkai yang pendek.
  4. Rambut gatal, berupa sel tunggal dengan pangkal berbentuk kantong dan ujung runcing. Isi sel menyebabkan rasa gatal.

b) Trikoma Non-glanduler

Trikoma ini tidak menghasilkan sekret. Macam-macam Trikoma non-glanduler, antara lain:
(1) rambut sisik, misalnya pada daun durian;
(2) rambut bercabang, misalnya pada daun waru;
(3) rambut akar.
Untuk memahami struktur trikoma, perhatikan Gambar 2.6!

 

b. Parenkim

Untuk mengamati jaringan parenkim, gunakan preparat yang telah Anda buat pada Kegiatan Kelompok 1. Tentukan letak jaringan parenkim! Bagaimanakah bentuk dan susunan selnya? Apakah parenkim mempunyai kloroplas? Identifikasikan ciri-ciri dari jaringan parenkim! Gambarlah jaringan parenkim tersebut dan bandingkan dengan Gambar 2.7!

Parenkim merupakan jaringan yang terbentuk atas sel hidup. Jaringan parenkim disebut juga jaringan dasar karena hampir pada setiap tumbuhan akan terdapat parenkim. Jaringan parenkim terdapat pada jaringanjaringan lain. Selain itu, jaringan parenkim disebut juga jaringan pemula karena pada tumbuhan primitif tubuhnya hanya terdiri atas sel-sel parenkim.
Jaringan parenkim memiliki membran sel yang tipis dan jarang mengandung lignin. Sel ini masih melakukan aktivitas hidup dan mempunyai vakuola yang berisi zat makanan. Jaringan parenkim memiliki kloroplas dan berbentuk poligonal dengan banyak ruang antarsel untuk pertukaran udara. Selain membentuk jaringan sederhana, sel parenkim merupakan komponen dari dua jaringan kompleks, yaitu xilem dan floem.
Beberapa organ tubuh tumbuhan yang mengandung jaringan parenkim adalah sebagai berikut.
1) Batang
Jaringan parenkim pada batang terdapat pada empulur dan di antara epidermis dan pembuluh angkut.
2) Akar
Jaringan parenkim pada akar juga terletak di antara epidermis dan pembuluh angkut sebagai korteks.
3) Mesofil daun
Jaringan parenkim pada mesofil daun kadang-kadang berdiferensiasi menjadi jaringan tiang dan bunga karang.
4) Pembentuk daging buah
5) Pembentuk endosperma
Jaringan parenkim dibedakan berdasarkan fungsi dan bentuknya.
Macam-macam jaringan parenkim berdasarkan fungsinya, antara lain seperti berikut.
1) Parenkim Asimilasi (Klorenkim)
Parenkim asimilasi banyak mengandung klorofil sehingga dapat bermanfaat untuk proses fotosintesis.
2) Parenkim Udara (Aerenkim)
Pada parenkim udara terdapat ruang antarsel, fungsinya adalah untuk aerasi atau pertukaran gas pada tanaman air, yaitu untuk mengapung pada permukaan air.
3) Parenkim Air
Parenkim air berfungsi untuk menyimpan air. Parenkim ini dijumpai pada tumbuhan xerofit dan epifit. Contohnya, parenkim yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan Agave dan Aloe.
4) Parenkim Makanan
Parenkim ini berfungsi untuk menyimpan cadangan makanan. Bisa terdapat pada akar, umbi, buah, dan batang. Makanan cadangan tersebut dapat berbentuk zat-zat padat, misalnya tepung, protein, lemak, dan tetestetes minyak
5) Parenkim Pengangkut
Jaringan parenkim pengangkut berguna sebagai alat pengangkut yang menghubungkan jaringan-jaringan sebelah luar dan dalam yang disebut dengan parenkim jari-jari empulur.


Berdasarkan bentuknya, parenkim dibedakan menjadi empat.

  1. Parenkim palisade, merupakan parenkim penyusun mesofil, kadang pada biji berbentuk sel panjang, tegak, mengandung banyak kloroplas.
  2. Parenkim bunga karang, juga merupakan parenkim penyusun mesofil daun. Bentuk dan ukuran parenkim ini tak teratur dengan ruang antarsel yang lebih besar.
  3. Parenkim bintang, berbentuk seperti bintang bersambungan ujungnya misalnya pada tangkai daun Canna sp.
  4. Parenkim lipatan, dinding selnya mengadakan lipatan ke arah dalam serta banyak mengandung kloroplas. Misalnya pada mesofil daun pinus dan padi.

Coba perhatikan bagian-bagian jaringan parenkim pada Gambar 2.8 berikut!

c. Jaringan Penunjang (Mekanik)

Coba perhatikan pohon berbatang besar dan tinggi yang ada di sekitar lingkungan Anda! Misalnya, pohon jambu air, mangga, nangka, dan sebagainya. Walaupun ada angin menerpa, batang pohon tersebut tetap berdiri tegak. Pada saat musim kemarau, pohon-pohon itu masih bisa berdiri tegak dan kuat walaupun saat itu kandungan air berkurang. Mengapa bisa demikian? Itu disebabkan pada tumbuhan tersebut terdapat jaringan mekanik.
Jaringan mekanik berfungsi untuk kekuatan pada tumbuhan tingkat tinggi. Pada tumbuhan tingkat tinggi yang berbatang besar dan tinggi, pengaruh kekurangan kandungan air pada sel-selnya dapat diatasi dengan adanya jaringan mekanik ini, sehingga tumbuhan tetap tegak tanpa mengalami kelayuan, bahkan pada pohon yang berbatang kecil pun walaupun kekurangan air dan diterpa angin akan tetap kokoh berdiri dan tidak layu karena adanya jaringan mekanik ini. Pada tumbuhan tingkat rendah yang belum terdapat jaringan mekanik, maka sebagai penguat tubuhnya adalah tekanan turgor atau tekanan dinding selnya.
Sesuai dengan fungsinya sebagai penguat tubuh tumbuhan, maka jaringan mekanik ini memiliki dinding sel yang tebal, mengandung lignin, dan zat-zat lainnya yang memberi sifat keras pada dinding sel.

Jaringan mekanik dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

1) Kolenkim

Untuk memahami struktur kolenkim, Anda masih bisa menggunakan preparat pada Kegiatan Kelompok 1. Coba tentukan letak jaringan kolenkim tersebut! Bagaimana bentuk dan susunan selnya? Identifikasikan ciri-cirinya dan gambarlah struktur sel kolenkim tersebut! Bandingkan dengan Gambar 2.9 Contoh dari penampang melintang dan membujur tumbuhan Solanum tuberasum.

Jaringan kolenkim terjadi dari prokambium. Jaringan ini terdapat pada organ tumbuhan yang masih aktif mengadakan pertumbuhan dan perkembangan. Keadaan selnya tidak memiliki lignin dan tersusun atas satu macam sel yang mengandung kloroplas, sehingga kolenkim bisa berfungsi untuk fotosintesis. Bila sel ini dilihat dengan mikroskop, terlihat bahwa dinding selnya jernih, putih, mengkilat.
Jaringan kolenkim terdapat pada organ tumbuhan, terutama pada golongan dikotil yaitu pada bagian daun, batang, dan bunga. Jarang terdapat pada bagian akar yang berada dalam tanah. Hanya kadang-kadang tumbuhan yang akarnya menjulang di atas tanah didapati jaringan kolenkim. Pada beberapa golongan tumbuhan monokotil, jaringan kolenkim tidak terdapat pada jaringan batang maupun daunnya, hal ini disebabkan karena yang berkembang lebih dahulu adalah jaringan mekanik yang berupa jaringan sklerenkim. Letak jaringan yaitu pada jaringan perifer, tepat di bawah epidermis daun dan batang.
Bentuk sel kolenkim ada yang panjang dan pendek. Sel yang pendek berbentuk seperti prisma, sedangkan yang panjang bentuknya hampir mirip dengan serat-serat dengan ukuran ± 2 mm. Dinding sel kolenkim mengalami penebalan-penebalan setempat berupa zat pektin.

Berdasarkan letak penebalannya, kolenkim dibedakan menjadi empat.

Tabel 2.1 Macam-Macam Kolenkim

No

Macam Kolenkim

Keterangan

1 Kolenkim Sudut(angular). Penebalan berlangsung pada bagian-bagian sudutnya, dan memanjang mengikuti sumbu sel. Contohnya, pada tangkai daunVitis sp, Begonia sp, Solanum tuberosum.
2 Kolenkim Papan(lamellar) Penebalan terjadi pada dinding sel yang tangensial(Sejajar permukaan organ), sehingga pada irisan melintang terlihat seoerti papan yang berderet-deret. Contohnya pada kortek batang Sambucus javanica.
3 Kolenkim tubular(lakuna). Terdapat pada kolenkim yang mempunyai ruang-ruang antar sel dan penebalan-penebalannya terjadi pada permukaan ruang-ruang antar sel tersebut. Contohnya, pada tangkai daunsalvina, malva dan althae.
4 Kolenkim tipe cincin Pada penampang lintang lumen sel berbentuk lingkaran. Pada waktu menjelang dewasa telihat bahwa karena pada tipe sudut penebalan bersambungan pada dinding sel, maka lumen tidak menyudut lagi.

Untuk memahami tipe-tipe kolenkim seperti dijelaskan di atas dapat Anda perhatikan Gambar 2.10!

2) Sklerenkim

Gunakan pula Kegiatan Kelompok 1 untuk mengamati struktur sklerenkim. Coba tentukan letak sklerenkim! Bagaimana bentuk dan susunan selnya? Perhatikan, apakah sklerenkim itu merupakan sel hidup atau sel mati! Identifikasi ciri-ciri sklerenkim tersebut, kemudian gambarlah strukturnya! Bandingkan dengan gambar sklerenkim yang benar pada Gambar 2.11!

Jaringan sklerenkim merupakan jaringan mekanik yang hanya terdapat pada organ tumbuhan yang tidak lagi mengadakan pertumbuhan dan perkembangan atau organ tumbuhan yang telah tetap. Sklerenkim berfungsi untuk menghadapi segala tekanan sehingga dapat melindungi jaringan-jaringan yang lebih lemah.
Sklerenkim tidak mengandung protoplas, sehingga sel-selnya telah mati. Dinding selnya tebal karena berlangsung penebalan sekunder sebelumnya yang terdiri atas zat lignin. Jaringan sklerenkim dibedakan menjadi dua.

a) Serat-Serat Sklerenkim (Fibers)

Serat-serat sklerenkim terdiri atas sel-sel yang berukuran panjang ± 2 mm dan samping yang ujungnya runcing. Serat-serat sklerenkim merupakan sel-sel yang sudah mati.
Dinding selnya mengalami penebalan dari zat kayu dan mengandung lamela-lamela selulosa sehingga lumen selnya sempit. Serat ini berbentuk poligon, yaitu segi lima atau segi enam. Noktah-noktahnya sempit yang berbentuk bagai saluran-saluran sempit miring. Serat-serat sklerenkim pada tumbuh-tumbuhan terbentuk bersamaan dengan saat-saat terhentinya pertumbuhan organ-organ pada tumbuhan.
Serat-serat sklerenkim terdapat dalam bentuk untaian yang terpisah-pisah atau dalam bentuk lingkaran di dalam korteks dan floem, dalam kelompok-kelompok yang tersebar dalam xilem dan floem. Pada Gramineae, serat-serat sklerenkim tersusun dalam suatu sistem berbentuk lingkaran berlekuk-lekuk yang dihubungkan dengan epidermis. Untuk lebih jelas, perhatikan Gambar 2.12.

Ada dua macam jenis serat sklerenkim, yaitu sebagai berikut.
(1) Serat di Luar Xilem (Ekstraxilari)
Serat ekstraxilari ada yang berlignin dan ada pula yang tidak. Serat ini dapat digunakan untuk membuat tali, karung goni, dan bahan dasar tekstil untuk pakaian.
(2) Serat Xilem (Xilari)
Jenis serat ini merupakan komponen utama kayu karena dindingnya mengandung lignin yang menyebabkan dindingnya keras dan kaku.

b) Sel-Sel Batu (Sklereid)

Sklereid terdapat pada bagian tumbuhan, antara lain di dalam korteks, floem, buah, dan biji. Dinding sklereid tersusun atas selulosa yang mengandung zat lignin yang tebal dan keras. Pada beberapa tumbuhan, kadang-kadang ditemukan pula zat suberin dan kutin. Sel-selnya mempunyai noktah yang sempit dan celahnya bundar, membentuk saluran yang disebut saluran noktah. Lumen sel sangat sempit karena adanya penebalan-penebalan dinding sel.
Sklereid mungkin bisa dijumpai dalam bentuk tunggal atau kelompok kecil di antara sel-sel, misalnya butiran seperti pasir pada daging buah jambu biji atau suatu masa sinambung seperti pada tempurung kelapa yang keras. Untuk memahami struktur sel-sel batu ini, perhatikan Gambar 2.13 berikut ini!

d. Jaringan Pengangkut

Jaringan pengangkut pada tubuh tumbuhan terdiri atas xilem dan floem. Jaringan ini merupakan jaringan khusus. Kegunaannya bagi tumbuh-tumbuhan, yaitu sebagai jaringan untuk mengangkut zat-zat mineral yang diserap oleh akar dari tanah atau zat-zat makanan yang telah dihasilkan pada daun untuk disalurkan ke bagian-bagian lainnya yang semuanya memungkinkan tumbuhan untuk hidup dan berkembang.
Jaringan pengangkut hanya terdapat pada tumbuhan tingkat tinggi, sedangkan pada tumbuhan tingkat rendah tidak ditemui jaringan ini. Hal ini disebabkan pada tumbuhan tingkat rendah pengangkutan air dan zat-zat makanan cukup berlangsung dari sel ke sel.

1. Xilem (Pembuluh Kayu)

Fungsi xilem adalah sebagai tempat pengangkutan air dan zat-zat mineral dari akar ke bagian daun. Susunan xilem ini merupakan suatu jaringan pengangkut yang kompleks, terdiri atas berbagai bentuk sel. Selain itu, sel-selnya ternyata ada yang telah mati dan ada pula yang masih hidup, tetapi pada umumnya sel-sel penyusun xilem telah mati dengan membran selnya yang tebal dan mengandung lignin sehingga fungsi xilem juga sebagai jaringan penguat.
Unsur-unsur utama xilem adalah sebagai berikut.

a. Trakeid

Susunan sel trakeid terdiri atas sel-sel yang sempit, dalam hal ini penebalan-penebalan pada dindingnya ternyata berlangsung lebih tebal jika dibandingkan dengan yang telah terjadi pada trakea. Sel-sel trakeid itu kebanyakan mengalami penebalan sekunder, lumen selnya tidak mengandung protoplas lagi. Dinding sel sering bernoktah. Trakeid memiliki dua fungsi, yaitu sebagai unsur penopang dan penghantar air.

b. Trakea (Komponen Pembuluh)

Trakea terdiri atas sel-sel silinder yang setelah dewasa akan mati dan ujungnya saling bersatu membentuk sebuah tabung penghantar air bersel banyak yang disebut pembuluh. Dindingnya berlubang-lubang tempat lewat air dengan bebas dari satu sel ke sel lain sehingga berbentuk suatu tabung yang strukturnya mirip sebuah talang. Kekhususan pada trakea antara lain, ukurannya lebih besar daripada sel-sel trakeid dan membentuk untaian sel-sel longitudinal yang panjang, penebalan-penebalannya terdiri atas zat lignin yang tipis dibandingkan trakeid.

c. Parenkim Xilem

Parenkim xilem biasanya tersusun dari sel-sel yang masih hidup. Dapat dijumpai pada xilem primer dan sekunder. Pada xilem sekunder dijumpai dua macam parenkim, yaitu parenkim kayu dan parenkim jari-jari empulur.
Parenkim kayu sel-selya dibentuk oleh sel-sel pembentuk fusi unsur-unsur trakea yang sering mengalami penebalan sekunder pada dindingnya.

Parenkim jari-jari empulur tersusun dari sel-sel yang pada umumnya mempunyai dua bentuk dasar, yakni yang bersumbu panjang ke arah radial dan sel-sel bersumbu panjang ke arah vertikal.

Sel-sel parenkim xilem berfungsi sebagai tempat cadangan makanan berupa zat tepung. Zat tepung biasanya tertimbun sampai pada saat-saat giatnya pertumbuhan kemudian berkurang bersamaan dengan kegiatan kambium.

2. Floem

Floem berfungsi untuk mengangkut dan menyebarkan zat-zat makanan yang merupakan hasil fotosintesis dari bagian-bagian lain yang ada di bawahnya. Floem mempunyai susunan jaringan yang sifatnya demikian kompleks, terdiri atas beberapa macam bentuk sel dan di antaranya terdapat sel-sel yang masih tetap hidup atau aktif dan sel-sel yang telah mati.
Sel yang menyusun floem antara lain sel tapis, sel penyerta, sel serabut, kulit kayu, dan sel parenkim kulit kayu. Pada kegiatan mencangkok, bagian ini harus dikelupas habis. Tahukah Anda mengapa demikian? Hal ini dilakukan supaya zat-zat makanan tertimbun pada bagian tersebut sehingga dapat terbentuk akar-akar pada media cangkoknya. Struktur floem dapat Anda lihat pada Gambar 2.14!

Floem terdiri atas unsur-unsur berikut.

a) Unsur-Unsur Tapis

Unsur-unsur tapis memiliki ciri-ciri, yaitu adanya daerah tipis di dinding dan intinya hilang dari protoplas. Daerah tapis merupakan daerah noktah yang termodifikasi dan tampak sebagai daerah cekung di dinding yang berpori-pori. Pori-pori tersebut dilalui oleh plasmodesmata yang menghubungkan dua unsur tapis yang berdampingan. Sel-sel tapis merupakan sel panjang yang ujungnya meruncing di bidang tangensial dan membulat di bidang radial. Dinding lateral banyak mengandung daerah tapis yang berpori. Pada komponen bulu tapis, dinding ujungnya saling berlekatan dengan dinding ujung sel di bawahnya atau di atas sehingga membentuk deretan sel-sel memanjang yang disebut pembuluh tapis.

b) Sel Pengantar

Sel pengantar merupakan sel muda yang bersifat meristematis. Sel-sel pengantar di duga mempunyai peran dalam keluar masuknya zat-zat makanan melalui pembuluh tapis.

c) Sel Albumin

Sel albumin terdapat pada tanaman Conifer, yang merupakan sel-sel empulur dan parenkim floem, mengandung banyak zat putih telur dan terletak dekat dengan sel-sel tapis. Diduga sel-sel albumin mempunyai fungsi serupa dengan sel pengantar.

d) Parenkim Floem

Parenkim floem merupakan sel-sel hidup yang berfungsi untuk menyimpan zat-zat tepung, lemak, dan zat organik lainnya dan juga merupakan tempat akumulasi beberapa zat seperti zat tannin dan resin.

e) Serat-Serat Floem

Serat-serat floem merupakan sel-sel jaringan yang telah mengayu. Di dalam berkas pengangkut, unsur-unsur xilem dan floem selalu terdapat berdampingan atau salah satu di antaranya terletak mengelilingi unsur lain.
Kenyataan di alam menunjukkan bahwa floem selalu terdapat berpasangan dengan xilem untuk membentuk berkas pengangkut pada tumbuhan. Dalam pengamatan di bawah mikroskop, berkas pengangkut dapat dengan mudah dibedakan dengan jaringan parenkim di sekitarnya karena relatif kecil dan tanpa ruang antarsel. Hanya trakea yang sel-selnya lebih besar dibandingkan sel-sel di sekitarnya.

Foto Kegiatan Praktikum Biologi

Posted: September 14, 2011 in Uncategorized

foto persiapan awal

foto pemotongan bahan

Irisan membujur permukaan atas daun Rhoeo discolor

Irisan membujur permukaan bawah daun Rhoeo discolor

Irisan melintang daun Rhoeo discolor

Irisan membujur permukaan atas daun tembakau

Irisan membujur permukaan bawah daun tembakau

Irisan melintang daun tembakau